Kamis , Januari 23 2020
Home / Artikel Bebas / Puisi-puisi Soe Hok Gie
Soe Hok Gie di Tugu Puncak Triangulasi Pangrango (Sumber:http://cdn.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2014/01/29/313732/670x335/soe-hok-gie-si-china-kecil-yang-bahagia-mati-muda.jpg)

Puisi-puisi Soe Hok Gie

Hai Petualang, pecinta ketinggian!

kali ini saya akan mem-posting puisi puisi Soe Hok Gie yang ditulis di buku Catatan Seorang Demonstran. Meskipun puisi puisi Soe Hok Gie tak 100% berbicara tentang alam (gunung), namun dalam 3 puisi Soe Hok Gie ini menyebut Lembah Mandalawangi. Ya. Lembah mandalawangi Gunung Pangrango yang merupakan tempat favoritnya. Dia sangat mencintai tempat menyepinya itu, dan menjadikannya sebagai inspirasi dalam puisinya. itulah yang harus kita contoh, menjadikan alam sebagai inspirasi. Berikut ini merupakan puisi puisi Soe Hok Gie.

 

Puisi Soe Hok Gie tentang Mandalawangi.

Mandalawangi – Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurang mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda Tanya”

tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah dan hadapilah

 

dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta, 19 Juli 1966

 

mandalawangi 2
Lembah mandalawangi, Gunung Pangrango. (Foto : Koleksi Pribadi)

 

Puisi Soe Hok Gie tentang alam.

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku

(Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih,

lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri

melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat

(Lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

Apakah kau masih akan berkata kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(Haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)

Manisku, aku akan jalan terus

membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan

bersama hidup yang begitu biru

Selasa, 1 April 1969

mandalawangi
Kabut Mandalawangi. (Foto : koleksi pribadi)

 

dan ini puisi Soe Hok Gie yang terakhir yang tak berjudul..

 

Ada orang yang menghabiskah waktunya berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza

Tapi aku ingin habiskan waktu di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di Lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak ’kan pernah kehilangan apa-apa


Selasa, 11 November 1969

About afvendiant

Suka bertualang di gunung dan hutan, membaca buku/novel tentang alam dan petualangan, mengeksplorasi keanekaragaman hayati di jalur pendakian/ perjalanan. Owner @mountainswalker & @meru_outdoor

Check Also

Mendaki pada Liburan Panjang, Kenapa Tidak?

Hmm…minggu ini merupakan liburan panjang. Banyak orang masih bingung bagaimana menggunakan hari libur panjang ini, …