Senin , Desember 9 2019
Home / Destinasi / Pendakian Gunung Slamet via bambangan #2 : Memenuhi Janji

Pendakian Gunung Slamet via bambangan #2 : Memenuhi Janji

Puncak Gunung Slamet 3428 mdpl (Foto Oleh Jepri)

Ini adalah lanjutan catatan perjalanan dari sudut pandang Bang Johan ( IG @johanhimself ). Hanya berfokus pada saat sampai di pos 5 sampai summit. Untuk membaca cerita sebelumnya (awal perjalanan sampai pos 5), sila klik http://23.96.59.235/catatan-perjalanan-pendakian-gunung-slamet-via-bambangan/

Saya sampai di pos 5 sekitar jam 17.30. Kaki sudah dalam kondisi autopilot mencari-cari rombongan depan dan tengah. Kemungkinan mereka sudah lama menunggu kami yang berjalan dengan kecepatan siput ini. karena badan sudah tidak bisa dikompromi dan angin senja semakin kencang, saya memilih untuk stay dan mendirikan tenda saat voting, untungnya rombongan belakang semua setuju karena kelelahan juga. hhe..

Setelah tenda berdiri, Saya langsung masuk dan meringkuk dalam tenda. Tak berapa lama, Rizki menyusul masuk. Entah mas Bagus dan Mas Ari dimana, karena tak lama setelah itu mata sudah terpejam. Beberapa saat setelah tidur di tenda, terdengar suara memanggil nama saya. Ternyata ada si Helmi, Mas Agus, mas Ian, dan Izal. Ternyata mereka sudah mendirikan camp di lahan kosong antara pos 5 dan Pos 6. Helmi menawarkan kami untuk terus berjalan ke tempat camp di atasdengan dipandu Mas Ian, Mas Agus, dan Izal, Sedangkan dia yang membereskan tenda. Itu hanya satu dari sekian banyak contoh dedikasi dari porter/guide bersertifikat APGI ini. 👏👏

15 menit kemudian, kami akhirnya sampai tempat camping. ada 4 tenda dibangun melingkar dan flysheet yang dibentangkan di tengahnya. di sana sudah ada mbak Adit, mbak Fifi, Mbak Kiki, Moyo, dan Jefri yang sudah menunggu kedatangan kami sejak lama.

Karena kondisi fisik saya saat itu sudah hampir ngedrop dan Mas Bagus mulai muntah2, kami melanjutkan tidur hingga Helmi dan Jefri selesai masak nasi dan ayam goreng (sebelum berangkat mereka masih sempet2nya beli ayam mentah dan diungkep di bc, biar bisa tinggal goreng di atas 🤣). Kami pun makan dengan menu istimewa ini, walaupun mulut kering dan nafsu makan sudah hilang. Setelah makan malam yang cukup kemaleman selesai, kami segera tidur kembali. Dalam hati, saya sempat merencanakan untuk tidak ikut summit keesokan harinya karena kondisi badan saya yang kurang fit.

Esok harinya
jam 4 pagi Helmi dan lainnya membangunkan saya. Benar saja, kepala pusing dan badan terasa berat untuk bergerak. Saya melihat Mas Bagus yang tidur di samping saya juga masih terlihat pucat dan tegas bilang kalau dia tidak mau muncak. Akal sehat saya bilang untuk stay ditenda menemani Mas bagus sampai mereka turun, lumayan masih ada persediaan makanan dan minuman yang ditinggalkan di tenda. Namun ada satu janji kecil yang teringat, bukan janji yang terucap, namun kepada diri sendiri. Demi seseorang. Apesnya janji itu harus dibawa ke puncak untuk ditunaikan.. sigh

Akhirnya dengan membawa janji itu, saya kuatkan lagi mental yang sempat amburadul, lalu beranjak keluar dari tenda. kami berangkat setengah 5. Medan perjalanan ke pos 6 cukup curam namun masih didominasi pepohonan. Kami sampai di pos 6 sekitar 15 menit kemudian, langit mulai merona. Kami memutuskan untuk langsung lanjut ke pos 7 yang katanya view sunrisenya lebih indah. Cukup tambahan sekitar 15 menit dari pos 6 untuk sampai ke pos 7, dan langkah kami terhenti sejenak pada pukul 05.00. Benar kata seseorang, Gunung Slamet ini memang juaranya golden sunrise..

Sunrise Pos 7 dan Gunung Sumbing-Sindoro di kejauhan ( Foto oleh @johanhimself )
Pos 9 Plawangan ( foto oleh @johanhimself )
Track menuju Puncak dari Pos Plawangan ( Foto oleh @johanhimself )

Setelah setengah jam sibuk foto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan. Pukul 06.00, kami sampai sudah sampai pos 9 Plawangan. ternyata pos 8 sudah kami lewati 15 menit lalu. Pos 9 adalah batas vegetasi. di atas tidak ada apa2 selain pasir, kerikil, bebatuan dan puncak. Mungkin seperti ini rasanya maju satu kali, mundur dua kali. Tiap kaki memijak, kaki langsung ambless, belum lagi bebatuan yang rapuh dan rawan menggelinding dan membahayakan pendaki di bawah. Pandangan mata saya berfokus ke jalan namun saat ingin sambat, sesekali saya melihat atas. Meyakinkan diri kalau puncak sudah dekat. Para pendaki yang terlihat kecil di puncak pun perlahan semakin membesar.

Puncak Slamet 3428 mdpl ( Foto oleh @johanhimself )

Akhirnya jam 7.30 saya dan Helmi sampai di puncak berbarengan. Ekspektasi saya yang ingin melihat pemandangan kawah sirna karena puncak Surono masih harus turun dari puncak yang saya daki lalu harus mendaki lagi ke puncak tersebut. Karena kami sudah merasa lelah, akhirnya dicukupkanlah pendakian sampai Puncak Bambangan (satu hal yang akan sedikit saya sesali sewaktu pulang. kayaknya harus balik ke sana lagi nih.. 😂).

Angin di puncak berhembus sangat kencang, Saya pun terpaksa mengeluarkan jaket lagi karena dinginnya mulai merasuk. kami duduk di balik batu yang menghalangi angin sambil persiapan membuat kopi dan mie panas untuk tambahan energi turun, namun ada satu hal yang terjadi….. Helmi lupa bawa Nesting.
mie ada.
kopi ada.
air ada.
Kompor ada.
gas ada.
Nesting ketinggalan di camp.
dan kami pun tertawa, berharap angin kencang bisa mengenyangkan perut

Sebagian Tim #SingPentingSlamet di Puncak Gunung Slamet (Foto Oleh : pendaki Anonim)

Setelah 1 jam puas berfoto-foto ria, saya memutuskan kembali. karena gak kuat dinginnya. sebelum turun saya melihat kerumunan orang, ada pendaki yang pingsan kata mereka. Entah karena kedinginan di puncak atau kurang makan.. Karena saya lihat sudah banyak yang menolong, saya pun bergegas turun, sebelum saya perlu ditolong juga. 😅

Perjalanan dari puncak kembali ke camp berlalu cepat, setengah jam cukup. Trek pasir tetap menjadi bagian yang paling menyebalkan. Ada satu orang mbak2 yang sedang mendaki bertanya ke saya “puncak masih jauh ya mas?” dan saya jawab “yaah.. jalani dulu aja mbak, b̶a̶r̶a̶n̶g̶k̶a̶l̶i̶ ̶c̶o̶c̶o̶k̶ ntar juga sampaai..”. Dan mbak2 itu pun berlalu dengan muka tersenyum kecut. MODUS!! (Red)

Saya sampai di camp tepat jam 10. Jepri, Mas Ian dan Mas Agus ternyata sudah sampai, menemani Mas Ari dan Mas Bagus membuat mie. Kami menunggu mba Kiki, mba Adit, mba Fifi, Moyo, Isal dan Helmi yang tak kunjung datang. 2 jam kemudian Mas Ari memutuskan untuk ke atas mencari rombongan sampai akhirnya bertemu merekadi atas pos 6. Mereka sampai camp lagi sekitar jam 1 siang dengan membawa mbak Kiki yang tampak lemas, dipapah mbak adit dan menggunakan trekking pole. setelah mereka cerita, ternyata orang yang pingsan di atas puncak waktu itu mbak Kiki! Bodohnya saya hanya bertanya ke orang, tidak menyempatkan diri untuk melihat siapa yang pingsan. .

Dari cerita mereka pula saya baru tahu kalau Isal dan Mbak Kiki memaksakan diri sampai ke Puncak Surono, (jadi di rombongan kami hanya 2 orang yang sampai puncak kawah itu.. 😂) pada saat naik kembali ke puncak Bambangan, mbak Kiki pun ngedrop karena sejak malam sebelumnya sulit makan. Lebih tepatnya tidak mau makan karena takut jika harus buang hajat di gunung. FYI, ini pendakian pertama Mbak Kiki (Red)

Jam 15.00, setelah istirahat dan makan siang di camp zone, kami berdiskusi. Tidak mungkin kami memaksakan mbak Kiki untuk turun dalam kondisi badan yang kuran fit walaupun orangnya bersikeras untuk turun. Sedangkan Mas Ian dan Mas Agus harus segera turun karena ada pekerjaan keesokan harinya. Akhirnya diputuskan 2 orang turun duluan (Mas Ian dan Mas Agus) sambil menitipkan pesan ke ranger dan pengurus Basecamp untuk menjemput mbak Kiki keesokan harinya. Kami memutuskan bermalam lagi dengan harapan besoknya mbak Kiki sudah fit lagi.

Memasak Bubur kacang hijau untuk makan malam ( foto oleh @johanhimself )

Malamnya kami memasak menu-menu ringan dari logistik yang tersisa: roti, bubur kacang ijo, dan kopi-kopi. Keesokan harinya, nasi, mie, dan telur yang tersisa siap menjadi asupan energi kami. Alhamdulillah mbak Kiki sudah cukup sehat dan merasa kuat untuk berjalan turun. Cuaca pagi itu cerah, kami pun bersiap-siap untuk turun. kami mulai perjalanan turun jam 8. Perjalanan cukup lancar tanpa halangan yang berarti hingga mencapai basecamp Setelah Dzuhur.

Pagi yang Cerah di Camp Area Sebelum turun (Foto Oleh : @johanhimself )

Wokeh, pelajaran yang bisa saya ambil dalam pendakian ini:

  • Jangan meninggalkan rombongan dalam kondisi apapun! (pelajaran yang berguna bagi saya di pendakian selanjutnya) puncak gak akan kemana, rumah juga akan terus menunggumu pulang. tak ada salahnya menurunkan egomu untuk menunggu rombongan di belakangmu sejenak. Terbukti pada akhirnya, rombongan paling belakang lah yang bener-bener having fun, menikmati perjalanan dan foto2nya paling banyak. 😂
  • Selama pendakian, tubuh butuh asupan makanan yang cukup, tidak peduli dengan keinginan/nafsu kita untuk makan. Malam pertama di camping zone, memakan ayam goreng yang keliatannya enak malah seperti makan karet tebal yang bikin tenggorokan kering, tapi saya tetap makan. Yang penting perut harus terisi supaya badan lebih fit untuk kegiatan esok hari.
  • Lebih peka dengan keadaan sekitar. jalur pendakian itu bisa jadi ladang doa dan pahala jika kita bisa membantu sesama pendaki yang membutuhkan.

About afvendiant

Suka bertualang di gunung dan hutan, membaca buku/novel tentang alam dan petualangan, mengeksplorasi keanekaragaman hayati di jalur pendakian/ perjalanan. Owner @mountainswalker & @meru_outdoor

Check Also

CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN #1

CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN SING PENTING.. SLAMET!! Itulah yel-yel yg kami teriakkan …