Senin , Desember 9 2019
Home / Umum / MARI MENDAKI DENGAN BIJAKSANA

MARI MENDAKI DENGAN BIJAKSANA

Berjuang Turun (Foto:Koleksi Pribadi)

MARI MENDAKI DENGAN BIJAKSANA

“Setengah dari gunung adalah kesenangan, setengahnya lagi adalah kesedihan.” Kata Yokomi Naota dalam Film ‘Peak : The Resquers’. Memang benar, saya pribadi sangat setuju. Gunung memang memberikan keindahan yang membuat para pengunjungnya senang. Namun, tak sedikit pula kejadian yang menghadirkan kesedihan pada para pendaki, rekan-rekan, ataupun keluarganya.

Seperti yang dialami sendiri oleh Naota yang harus kehilangan Ayahnya-orang tua satu-satunya- karena terjatuh dan meninggal di gunung. Emosi kesedihan yang sangat mendalam ditampilkan dalam scene saat jenazah Ayah Naota tiba di basecamp.

Masih teringat juga tragedi Semeru 1969 serta Aconcagua 1992. Betapa kesedihan menyelimuti rekan-rekan dan keluarga mereka. Soe Hok Gie dan Norman Edwin, yang gugur di gunung, tempat yang mereka cintai. Tempat yang memberikan mereka perasaan senang.

Namun jangan lupa juga, banyak kesenangan dan kebahagiaan yang tercipta di gunung. Momen-momen saat Tim ISSEMU berhasil menuntaskan Seven Summits, dan menjadi Seven Summitters pertama dari Indonesia. Atau saat kalian menggapai puncak gunung yang sudah lama kalian impikan, kalian perjuangkan.

Mendaki dan menggapai puncak memanglah hak setiap orang. Namun jangan lupa untuk tetap mempertimbangkan situasi dan kondisi di gunung itu sendiri. Apakah aman didaki? Apakah aman untuk mendaki ke puncak tertingginya? Apakah kita mampu? Apakah rekan-rekan kita dalam kondisi yang fit? Banyak yang harusnya kita pikirkan, namun kadang kita abaikan. Seolah puncak adalah segala-galanya. Menurut saya pribadi, menggapai puncak memanglah membanggakan, dan memberikan perasaan senang. Saya Bisa. Saya Mampu. Tapi mendaki gunung tak melulu tentang itu.

Keselamatan, keamanan, dan kenyamanan diri kita serta rekan-rekan kita saat mendaki haruslah menjadi prioritas. Tentunya Qoute Ed Viesturs ini sudah #Populer di kalangan pendaki. “It’s a round trip. Getting the summit is an optional, getting down is mandatory”. Mendaki itu sepaket Naik dan Turun. Mencapai puncak itu pilihan, turun dengan selamat adalah kewajiban.

Saya justru mengapresiasi mereka yang melepaskan kesempatan untuk menggapai puncak demi pulang dengan selamat, walau sedikit kurang sehat. Pasti dalam hati mereka sedih kecewa, tapi mereka menang melawan ego mereka sendiri. Dan mereka tetaplah pendaki. Karena sejatinya pendaki itu orang yang mendaki, bukan (hanya) orang yang mencapai puncak.

Mari, mendaki dengan bijaksana.

About afvendiant

Suka bertualang di gunung dan hutan, membaca buku/novel tentang alam dan petualangan, mengeksplorasi keanekaragaman hayati di jalur pendakian/ perjalanan. Owner @mountainswalker & @meru_outdoor

Check Also

BETAPA ENAKNYA NAIK GUNUNG ANDONG JAMAN DULU

BETAPA ENAKNYA NAIK GUNUNG ANDONG JAMAN DULU Naik Gunung. Berbicara tentang naik gunung, yang terlintas …