Senin , Desember 9 2019
Home / Catatan Perjalanan / Hiking Ceria ke Pangbadakan

Hiking Ceria ke Pangbadakan

PANGBADAKAN, POS 1 LINGGASANA,

Siang itu, ba’da dzuhur, kami berempat mulai melangkahkan kaki menapaki jalur pendakian Linggasana, Gunung Ciremai, Kuningan. Kami memang tidak berencana mendaki sampai puncak, hanya akan sampe Pos 1 saja. Sekedar mencari keringat dan latihan mendaki lagi bagi Nyonya (istri) yang sudah sekitar 2,5 tahun tidak mendaki gunung. Namun, walaupun sekedar latihan, aku dan nyonya tetap membawa peralatan dan logistik seperti naik gunung pada umumnya. Karena memang kami berdua akan melanjutkan mengikuti acara camp yang diadakan oleh komunitas #PendakiIndonesia Cirebon Jeh di sekitar Basecamp Linggasana. Sementara dua temanku yang kain, Helmi dan Pipit, mereka hanya membawa daypack karena mereka tidak berencana lanjut camp seperti kami.

Jalur pertama yang kami lalui setelah gerbang pendakian adalah jalan aspal yang dilanjutkan jalan berbatu (seperti jalan aspal yabg telah rusak). Siang yang cukup terik cukup membuat keringat dengan cepat keluar dari pori-pori. Namun tak begitu lama, jalur langsung berubah teduh, karena kanopi hutan di Ciremai masih termasuk bagus di antara gunung-gunung lain di Jawa.

Angin sepoi turut menemani langkah kami mendaki tanjakan panjang. Jalan yang berbatu lepas membuat kami harus cermat memilih pijakan agar tidak tergelincir. Setelah melewati bak air, jalur berbelok ke kiri, memasuki hutan pinus yang diselingi tanaman kopi di sekitarnya. Jalur berupa jalan tanah setapak dengan tanjakan sedang dan banyak bonusnya. Jalan landai.

Nyonya terlihat tak mengalami kesulitan disini. Entah nanti. Karena memang dulu lumayan sering mendaki saat masih berstatus menjadi mahasiswi. Selepas lulus dan Pulang Kampung lalu bekerja, praktis tak lagi sempat naik gunung. Sementara Pipit, karena memang belum terbiasa blusukan di hutan, lebih sering mengajak istirahat. Memang, untuk naik gunung butuh pembiasaan, atau setidaknya persiapan fisik yang cukup.

Hutan Ciremai yang hijau namun gelap, tetap menyegarkan mata dan pikiranku, aku kira hal ini juga dirasakan oleh mereka, mungkin juga kawan-kawan pembaca setia juga merasakannya.

Memang, hutan dan alam, adalah salah satu hal yang mampu menyegarkan kembali semangat yang mulai redup akan semakin hingar bingarnya kota. Bukan berarti aku tak suka di kota. Namun aku lebih senang di hutan ataupun pegunungan.

Sesampainya di sebuah dataran dengan batu besar kami kembali beristirahat. Kembali berbincang ringan. Kata Helmi, Pos 1 tinggal sebentar lagi. Itu kata Helmi. Benar tidaknya memang harus kami buktikan sendiri.

Setelah nafas sedikit teratur, kami kembali melangkahkan kaki-kaki kami. Menapaki terjal jalan setapak sambil mata tetap ‘jelalatan’ mencari keanekaragaman hayati di hutan gunung tertinggi di Jawa Barat ini. Anggrek Tanah terutama. Tapi memang elevasi area yang kami daki ini belum mencukupi untuk hidup anggrek-anggrek tanah yang biasa kami temukan. Nihil. Hingga sampai Helmi berteriak “Pos 1” dari kejauhan. Hanya beberapa jenis kupu-kupu yang teramati. Serta beberapa bunga yang memang mudah ditemukan.

Beberapa Langkah Sebelum Pangbadakan (foto oleh @afvendiant)

Akhirnya, sekitar Jam 14.30 Aku dan Nyonya sampai di Pos 1, Pangbadakan. Disana Helmi dan Pipit sudah sampai lebih dulu. Kamipun bergabung duduk di kursi bambu yang sudah disediakan di sana oleh pihak Basecamp. Melepas keril. Melepas lelah. Alhamdulillah.
Eh, ralat! Ternyata waktu itu kami tak langsung melepas keril. Setelah duduk (masih dengan keril) aku mengajak Nyonya untuk mengambil beberapa foto yang- kalo kata netijen sekarang- “Instagramable”. Karena Pos 1 Jalur Pendakian Linggasana berupa Area Terbuka dengan pemandangan kanopi hutan serta atap-atap rumah di kejauhan. Saat kami selesai Ceprat Cepret berbagai posisi, Helmi juga sudah memasang Hammock yang dia bawa. Masoook. 😁

‘Photo Booth’ di Pos 1 Ciremai via Linggasana (Foto oleh @afvendiant )

Setelah sesi poto-poto selesai, kami mulai membongkar isi tas kami, karena ‘agenda’ hiking singkat kali ini tak hanya bersantai di Hammock, tapi juga masak-masak ceria.
Helmi, sebagai Guide Tersertivikasi APGI, dengan cekatan mengolah bahan makanan yang kami bawa. Pipit pun ikut nimbrung. Mungkin dia biasa masak di rumah, tapi ini tentu hal baru baginya memasak dengan peralatan yang berbeda. Sementara Aku dan Nyonya, kami dapat bagian Hammock-an santai sambil membaca buku. Sungguh Syahdu. Nikmat Mana Lagi Yang Engkau Dustakan. 😆
#Jahat

Hammock-an di sini cukup enak. Namun bagiku di sini masih terasa sedikit hangat, gerah jika tak ada angin. Padahal sinar mentari sudah condong ke barat dan tertutup kanopi hutan dibatas pos 1. Tapi wajar saja, karena Pos 1 Linggasana masih di ketinggian tak sampai 1000 mdpl. Masih lebih rendah dibanding Basecamp Palutungan. Namun Nyonya terlihat nyaman-nyaman saja bergelayut di hammock sambil fokus membaca buku Pejalan Anarki. Sementara Aku, akupun akhirnya turun dan ikut ‘memeriahkan’ acara favorit yang sedang helmi kerjakan. Memasak.

Hammock-an Santai sembari membaca ‘Pejalan Anarki’ (foto oleh @afvendiant )

Memasak di gunung bagiku pribadi adalah salah satu kegiatan yang paling menyenangkan. Sehingga kadang jadi lupa waktu. Rencana kami akan turun Jam 16.00 pun molor 1 jam. Kami baru selesai masak, makan, dan kembali packing perlengkapan kami jam 5 sore. Kamipun bergegas turun karena cuaca juga sudah berubah sedikit mendung. Tapi tentu saja setelah beberapa (puluh) kali ceprat-cepret lagi walaupun latar yang tadinya berupa lanskap indah telah berubah menjadi tembok kelabu.

Kamipun turun dengan cukup cepat karena waktu akan segera gelap, dan khawatir hujan akan segera turun. Hutan yang siang tadi cukup gelap, kini lebih terlihat gelap. Namun jalur masih terlihat. Jarak pandang masih cukup aman. Aku tetap berjalan di belakang seperti biasanya. Sembari tetap memotret perjalanan turun. Warna-warni raincover yang yang kontras dengan gelap sekitar.

Hutan Gunung Ciremai ( Foto oleh : @afvendiant )

Perjalanan turun, seperti biasanya, lebih cepat dan relatif lebih mudah. Tahu-tahu kami sampai di tetumbuhan kopi. Lalu tak berapa lama sampai di bak air. Lalu jalan menurun panjang dengan banyak kerikil dan bebatuan. Di sini kami harus lebih berhati-hati dalam melangkah. Memilih pijakan. Karena salah pijak, bisa fatal akibatnya.

Kamipun sampai di Gerbang Pendakian sebelum adzan maghrib berkumandang. Setelah beristirahat sebentar, Helmi dan Pipit minta ijin untuk turun (pulang) duluan. Sementara aku dan Nyonya mulai mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda di sekitar acara 3rd Anniversary #picirebonjeh. Lalu segera merebahkan badan di dalam tenda. Dan hujan pun mulai turun mendinginkan suasana.

About afvendiant

Suka bertualang di gunung dan hutan, membaca buku/novel tentang alam dan petualangan, mengeksplorasi keanekaragaman hayati di jalur pendakian/ perjalanan. Owner @mountainswalker & @meru_outdoor

Check Also

CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN #1

CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN SING PENTING.. SLAMET!! Itulah yel-yel yg kami teriakkan …