Sabtu , Mei 30 2020
Home / Lingkungan / Gunung Andong

Gunung Andong

Gunung Andong 210713 by Afvendiant
Gunung Andong, Minggu 21 Juli 2013

Membuka-buka album digital tentang beberapa kali pendakian ke Gunung Andong, membuat saya bersyukur sekaligus miris. Bersyukur, karena sempat merasakan hijaunya, sunyinya, damainya berkemah dan ber-hiking  ceria di gunung berketinggian 1726 mdpl tersebut. Miris, karena dalam kurun waktu yang tak bergitu lama Andong berubah menjadi ‘pasar tumpah’, bahkan menyandang Gunung Terpopuler Hits 2015 versi pengguna social media.

Andong, dulu dan kini. ‘Dulu’ yang saya bahas di sini tidaklah berpuluh-puluh tahun yang lalu. ‘Dulu’ di sini hanya sekitar 2 Tahun ke belakang. Ya, 2 tahun lalu Andong masih hijau, masih lugu, belum banyak yang menjamahnya. Beberapa kali berkemah saat akhir pekan, hanya tenda rombongan kami yang berdiri di atas rerumputan hijau. Kami masih bisa duduk-duduk bercengkerama dan bercanda di camping site yang dulu hanya berukuran sekitar 8 x 5 meter. Camping site yang nyaman, ditumbuhi rerumputan, dan dipagari semak belukar yang bisa menghalau angin yang bertiup kala malam. Dulu seakan-akan benar-benar ‘kembali ke alam’. Meresapi damai. Menikmati diri menjadi bagian dari alam ini. Malam yang mengalun tenang. Pagi yang berembun sunyi.

Awal pertama saya mulai mendaki gunung Andong memang untuk mendaki gunung, olah raga, menghilangkan penat seperti alasan kebanyakan pendaki. Namun setelah beberapa kali mendaki, ada sesuatu yang menarik dari gunung ini. Biodiversitas. Atau bahasa gampangnya keanekaragaman hayati. Sering kami mendaki gunung Andong hanya untuk mengeksplor flora-fauna yang dulu masih banyak dan beragam. Anggrek, tetumbuhan, kupu-kupu, burung, kantong semar, adalah list wajib jika saya dan beberapa teman Bioders (Pemerhat biodiversitas) kesana. Sungguh, kami bersyukur mengenal gunung Andong beserta para penghuninya yang beragam dan berharga. Setidaknya ‘mereka’ sudah kami catat sebelum mati terinjak, hilang ditebang, dan lenyap menjadi abu karena terlalap api.

Kini. Entah apa yang masih tersisa dari Andong yang dulu. Jalan setapak mungkin sudah beberapa kali lebih lebar, yang tanahnya semakin tergerus sandal dan sepatu ratusan hingga ribuan pendaki setiap pekan. Rerumputan telah lama hilang, semak belukar pun tak luput dari penggusuran. Padahal rerumputan dan semak belukar adalah penangkap embun, yang airnya akan diresapkan ke tanah, menjadi sumber mata air. Akar-akar rumput yang lemah pun mampu menahan lapisan tanah dari gerusan hujan. Tapi tidak cukup kuat menahan tajamnya ayunan mata cangkul. Demi pelebaran campsite untuk memenuhi hasrat mendaki ribuan pendaki. Lalu, dimana esensi kegiatan berkemah yang dulu ada? Apakah kini bergeser dari mencari damai, menjadi mencari ramai? apakah bosan dengan penuh sesak kota lalu bersemangat dengan bersesak ria di area bertenda? Apakah untuk menghindari kemacetan di jalanan kota menjadi menciptakan kemacetan di jalur pendakian? Apa?

Saya tidak menghakimi siapapun disini. karena saya sadar, sedikit banyak saya juga ‘menyumbang’ sedikit kerusakan. Saya juga tidak melarang setiap orang untuk mendaki gunung ini. Karena setiap orang memiliki hak yang sama untuk ‘berpetualang’. Namun disini, saya sangat menyayangkan perubahan negatif yang terjadi. Gunung Andong jelas tak mampu memikul beban ribuan pendaki setiap akhir pekan. Kerusakan ekosistem, sampah, dan kebakaran pasti menjadi efek sampingnya. Di sini, pihak-pihak yang memiliki ‘kuasa’ seharusnya lebih bijak dalam mengatur atau menerima jumlah pendaki setiap harinya. Namun, jika uang masih menjadi prioritas, maka ekosistem alam akan segera tuntas.

Jujur, saya rindu Andong yang dulu. Andong yang masih udik, belum menjadi ‘artis’ social media. Tempat belajar, bersahabat, bersyukur. Tempat mengenal diri lebih dalam lagi. Dan saya selalu bersyukur, sempat mengalami moment-moment yang mungkin tak banyak dialami pendaki Andong kekinian. Ups!

In Memory

Gunung Andong 2012-2013

*Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis. Ada yang ingin disampaikan? mari berdiskusi.

About afvendiant

Suka bertualang di gunung dan hutan, membaca buku/novel tentang alam dan petualangan, mengeksplorasi keanekaragaman hayati di jalur pendakian/ perjalanan. Owner @mountainswalker & @meru_outdoor

Check Also

Mendaki Ala Naturalis Amatir

Mendaki Ala Naturalis Amatir oleh : Rina Septu Ningsih Bagi kami, para naturalis amatir, mendaki …