Senin , Desember 9 2019
Home / Catatan Perjalanan / CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN #1

CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN #1

Sunrise Pos 7 Slamet via bambangan (Foto oleh : @johanhimself )

CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN

SING PENTING.. SLAMET!!

Itulah yel-yel yg kami teriakkan setelah berdoa sebelum memulai pendakian. Kami bertigabelas, Helmi, Jefry, Moyo, Ian, Agus, Mbak Adit, Mbak Fifi, Mbak Kiki, Mas Faizal, Bang Johan, Mas bagus, Rizky, dan aku sendiri, Ari, sekitar pukul 8 pagi mulai melangkahkan kaki melewati gerbang pendakian dengan wajah yang senang. Tersenyum bahagia. Optimis pendakian akan berjalan lancar. Optimis cuaca akan bersahabat walaupun pagi ini kabut masih menggelayut manja di langit Bambangan.

Wajah-wajah ceria sebelum memulai pendakian (Foto oleh : @afvendiant)
Wajah-wajah ceria sebelum memulai pendakian (Foto oleh : @afvendiant)

Etape pertama adalah ladang. Jalan beton yang lebar menjadi pembuka perjalanan ini. Jalan yang masih relatif landai, menanjak konstan. Cuaca yang berkabut cukup menguntungkan kami pagi ini. Karena jika terik mentari tak tertutupi, akan membuat kami mandi keringat sampai memasuki hutan. Aku, mas bagus, dan rizky yang berada di belakang memilih memotong jalur melalui View Slamet. Sekaligus menikmati wahana wisata yang mulai ditinggalkan itu. Sampai di View Slamet, kami melepaskan carrier kami di bangku taman, sekedar melepaskan beban sejenak dari pundak. Ngap. Karena jalan memotong biasanya lebih curam dibandingkan jalur normal yang memutar.

Etape 1 : Jalan Beton/ Ladang (foto oleh : @afvendiant)
Etape 1 : Jalan Beton/ Ladang (foto oleh : @afvendiant)
Etape Ladang (Foto oleh : @afvendiant)
Etape Ladang (Foto oleh : @afvendiant)
VIEW SLAMET. (Foto oleh : @afvendiant)
VIEW SLAMET. (Foto oleh : @afvendiant)

Di sini, kami menikmati lanskap dan angin sepoi. Menulis catatan perjalanan, menyanyi walau sumbang, memotret, dan tentu saja minum untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang jadi keringat. Tak berapa lama, kami angkat kembali keril kami. Takut teman-teman menunggu terlalu lama. Kami lanjutkan jalan setapak yang kami belum yakin betul akan bertemu dengan jalur utama pendakian. Namun tetap kami tapaki juga jalur di tengah semak-semak itu di antara suara elang yang sedang menunjukkan bahwa hutan di kaki Gunung Slamet ini adalah teritorinya. Dan kamipun bersyukur, itu memang jalur yang sudah dipakai banyak pendaki seperti kami ini.

Jalan Setapak dari View Slamet ke Jalur pendakian Utama (Foto oleh : @afvendiant)
Jalan Setapak dari View Slamet ke Jalur pendakian Utama (Foto oleh : @afvendiant)
Jalan Setapak dari View Slamet ke Jalur pendakian Utama (Foto oleh : @afvendiant)
Jalan Setapak dari View Slamet ke Jalur pendakian Utama (Foto oleh : @afvendiant)
Jalan setapak dari View Slamet (Foto Oleh : @afvendiant)
Jalan setapak dari View Slamet (Foto Oleh : @afvendiant)

Kami bertemu lagi dengan rombongan yang sudah cukup lama duduk-duduk di warung pertama. Mereka sedikit heran, kenapa kami bisa muncul dari depan, sementara kami pejalan pelan yang sedari tadi ketinggalan di belakang. Kamipun menghempaskan badan di rerumputan, sementara mereka mulai bersiap melanjutkan perjalanan.

Kami pun tak berlama-lama di pos bayangan itu. Bergegas kami ikuti jejak rombongan kami. Jalan relatif landai, melwati kalimati. Lalu agak menanjak. Dan mulai terus menanjak. Aku yang berjalan paling belakang mengabadikan barisan pejalan dengan carrier yang dibungkus raincover warna-warni ini. Aku memang lebih suka memotret moment, candid, memotret proses. Karena saat nanti kulihat lagi di laptop, atau di HP, aku akan merasaaku disana. Di belakang kamera. Dan semua memori akan terputar lagi.

berjalan menuju Pos 1 (Foto oleh : @afvendiant)
berjalan menuju Pos 1 (Foto oleh : @afvendiant)
Menyeberangi kalimati (Foto oleh : @afvendiant)
Menyeberangi kalimati (Foto oleh : @afvendiant)
Tanjakan Setelah kalimati (Foto oleh : @afvendiant)
Tanjakan Setelah kalimati (Foto oleh : @afvendiant)

Kami kembali beristirahat di warung yang menjajakan cemilan, gorengan, semangka, dan minuman di jalur pendakian. Akupun membeli sebuah semangka yang sedari tadi menggoda. Merahnya, segarnya. Tak mau berlama-lama, rombon kembali melangkahkan kaki menapaki jalan yang semakin miring, menanjak konstan. Dan tanjakan menuju pos 1 ini memecah kami secara alami. Menjadi 3 rombongan kecil. Tim cepat, tim tengah, dan tim penyapu (baca : lambat). Dan kalian pasti tahu aku berada dimana.

Dengan tertatih, kulangkahkan kaki di tanjakan curam untuk sampai di Pos 1. Ya, baru Pos 1. Dan otot kaki mulai memberi kode minta diistirahatkan. Segera kulepas carrier, backsystem jaring yang katanya membuat punggung tetap kering nyatanya tetap basah oleh keringat. Teman-teman yang sudah lebih dulu sampai terlihat sudah kembali ke kondisi awal. Nafas yang teratur, tak lagi ber keringat, dan ceria. Kami juga ceria, namun dengan wajah penuh peluh.

POS 1 : Pondok Gembirung 1937 mdpl (Foto oleh : @johanhimself )
POS 1 : Pondok Gembirung 1937 mdpl (Foto oleh : @johanhimself )
Pos 1 Foto oleh : Jefry / @sendalkanan_ )
Pos 1 Foto oleh : @johanhimself )
Pos Gardu pandang/ Pos 1. (Foto oleh : @afvendiant)
Pos Gardu pandang/ Pos 1. (Foto oleh : @afvendiant)

Sekitar 15 menit semenjak kami sampai, Tim pertama dan tengah mulai memanggul kembali carrier mereka, sementara kami bertiga masih memcoba untuk memulihkan tenaga kami. Karena jalur dari Pos 1 ke Pos 2 adalah jalur terberat setelah Jalur Summit. Butuh kondisi fisik yang prima. Dari Pos 1 ke Pos 2 didominasi tanjakan panjang dengan kemiringan sedang hingga curam. Di sini baru menyadari, pentingnya olahraga rutin sebelum mendaki gunung, terutama bagi orang-orang sepertiku yang naik gunung bisa 6 bulan sekali, atau setahun sekali.

Kamipun berjalan lagi dengan gaya kami semula. setapak demi setapak. Lelah berhenti, ada tempat enak duduk, bahkan sempat bikin susu. Sering duduk saat istirahat ternyata berdampak cukup buruk pada otot-otot kakiku. Keram. Kanan reda berganti kiri, kadang kena dua-duanya. Sungguh terwelu. Aku memang selalu berjalan paling belakang, disamping aku lebih senang memotret moment saat rekan di depanku berjalan, aku juga sering berhenti untuk memotret flora maupun fauna yang menarik perhatianku. Anggrek tanah terutama.

Jalur Antara Pos 1 ke Pos 2 (Foto oleh : @afvendiant)
Jalur Antara Pos 1 ke Pos 2 (Foto oleh : @afvendiant)
jalur antara Pos 1 ke Pos 2 (Foto oleh : @afvendiant)
jalur antara Pos 1 ke Pos 2 (Foto oleh : @afvendiant)

Sepanjang jalur antara pos 1 ke Pos 2, kami saling salip dan saling tikung dengan rombongan lainnya. Saling sapa dan memberi semangat. Ya, semangat lah yang sangat kuperlukan sekarang untuk menghadapi track ini.

Di kejauhan terlihat pondokan cukup besar, Hati cukup tenang karena kami sudah sampai di Pos 2. Dan seperti pemandangan di pos 1, tim pertama dan tengah tengah duduk-duduk di deretan bangku dari batang dan cabang pohon yang dibuat oleh pemilik warung di sana. Carrier kembali kuletakkan, ikut membaur dalam canda dan tawa sembari mengatur nafas agar kembali stabil.

POS 2 : Pondok Walang (Foto Oleh : @johanhimself )
POS 2 : Pondok Walang (Foto Oleh : @johanhimself )
Warung di Pos 2 (Foto oleh : @afvendiant)
Warung di Pos 2 (Foto oleh : @afvendiant)

Di pos 2 ini terdapat 3 warung yang menjajakan makanan yang serupa dengan warung di bawah. Dan semangka tetap menjadi primadona bagi para pendaki sebagai pengembali energi. Di pos ini, kami mengisi waktu istirahat untuk sholat, berjemur, dan makan siang nasi bungkus yang kami pesan di warung sekitar Basecamp. Cukup lama kami habiskan waktu di pos 2 ini, terutama kami bertiga. Setelah kulihat catatan perjalanan yang kucatat di buku kecil, sekitar 2 jam kami bertiga disana. Karena kami bertiga tetap menjadi tim terakhir yang meninggalkan pos 2.

Dari pos 2 ke pos 3 jalur masih berupa tanjakan, namun secara keseluruhan tak securam jalur menuju pos 2. Dari pos 2 ini aku mulai menggunakan Trekking Pole yang sedari awal hanya menjadi ‘variasi’ di carrierku. Ternyata memang ada sedikit perbedaan yang kurasakan. Kaki yang dari tadi sering keram, jadi lebih jarang intensitas nya. Tapi ada sedikit ‘masalah baru’ yang ditimbulkan Trekking Pole ini. Bagian bawah ketiak jadi terasa lebih pegal karena tangan jadi beraktivitas lebih banyak dibanding tanpa  memegang Trekking Pole. Tapi setidaknya, kaki lebih aman. Karena yang kubutuhkan saat ini adalah kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya.  Halah.

Di etape ini, hutan masih rapat, kanopi juga masih cukup rapat untuk menghalangi teriknya sinar mentari. Kami bertiga masih berjalan dengan tempo yang tak jauh beda dengan sebelum-sebelumnya. Di jalur menuju pos 3, aku melihat tumbuhan bunga yang katanya berbunga 9 tahun sekali, seperti yang ku jumpai di Ciremai via Palutungan dan Apuy. Akupun memotretnya sebagai dokumentasi.

Sekitar pukul setengah empat sore, kamipun tiba di Pos 3. Aku sapukan pandangan ke segala penjuru pos ini, tapi tak kulihat rombongan kami. Mungkin mereka tak lagi sabar menunggu kami yang lambat ini. Kamipun kembali beristirahat, duduk di tanah dan meletakkan carrier-carrier kami. Di pos 3 juga terdapat beberapa warung yang mengais rejeki dari para pendaki. Namun kami tidak beristirahat di warung, karena memang tak ada keinginan untuk membeli semangka atau lainnya.

POS 3 : Pondok Cemara 2510 mdpl (Foto oleh : @afvendiant)
POS 3 : Pondok Cemara 2510 mdpl (Foto oleh : @afvendiant)
(Coffee) Break di Pos 3 (Swafoto oleh : @afvendiant)
(Coffee) Break di Pos 3 (Swafoto oleh : @afvendiant)

Kamipun tak berlama-lama karena waktu sudah semakin sore. Setelah mengecek pesan di Whatsapp, kebetulan ada sinyal,akupun kembali memanggul carrierku. Kali ini kami lebih bersemangat karena etape terberat sudah kami lewati. Walaupun badan dan kaki sudah mulai menunjukkan tanda-tanda butuh istirahat, dan masih ada beberapa pos yang harus kami lewati. Tapi kami harus bisa menyusul teman-teman kami yang mungkin sudah sampai di pos 4 atau bahkan 5. Ternyata kekhawatiran kami di awal terhadap mbak kiki, yang baru pertama mendaki, dan sangat tidak perlu. Justru kamilah yang perlu dikhawatirkan.

Tak banyak hal ‘menarik’ yang bisa diceritakan selepas pos 3. Masih sama seperti etape sebelumnya, berjalan pelan namun konstan, tapi lebih jarang duduk saat berhenti.

Kami sampai di Pos 4 sekitar pukul 16.40. Sudah cukup sore. Kamipun dikejutkan oleh ibu-ibu yang tiba-tiba muncul dan berkata kepada kami, untuk memberitahu tim lain yang sedang berhenti di area pos 4, untuk segera melanjutkan perjalanan. Kamipun mengiyakan, namun kami segera melihat mereka sudah siap-siap akan berjalan lagi. Yasudah. Dan kami tak lagi memperhatikan si ibu, apakah memang ibi penjual di Pos 5 yang turun, atau bukan.

Kenapa tidak boleh berlama-lama berhenti di pos 4? Karena memang mitos nya seperti itu. Tidak boleh berhenti (lama) di pos 4, Samarantu. Hantu samar-samar. Bagiku pribadi, aku lebih memilih menghargai mitos/ kepercayaan yang diyakini masyarakat sekitar. Tidak ada salahnya, sebagai tamu menghormati tuan rumah.

POS 4 : Samarantu 16.40 (Foto oleh : @afvendiant )
POS 4 : Samarantu (Foto oleh : @afvendiant )

Kamipun lewat saja di Pos ini agar bisa segera sampai di Pos 5. Karena kami berpikir, mungkin rombongan akan camp di pos 5 mengingat sudah cukup sore.  Sebelum sampai pos 5, kami bertiga melihat Bang Johan sendirian, sedang berhenti di pinggir jalur pendakian yang cukup curam. Kamipun menyapanya dan berjalan kembali bersamanya. Dari ceritanya, Bang Jo sudah berjalan sendirian sejak sebelum Pos 3 karena badan sudah mulai drop dan sudah tidak bisa mengimbangi pace tim tengah.

Tak berapa lama sejak bertemu Bamg Jo, sampailah kami di Pos 5. Mata kembali kusapukan di setiap tenda-tenda yang sudah didirikan, berharap melihat tenda rombongan kami. Tapi sampai di sekitar shelter Pos 5 pun tak kulihat formasi tenda dari rombongan kami. Kami pikir mereka mendirikan tenda di Pos 7, seperti planning awal.
Kamipun berdiskusi, apakah akan tetap lanjut menuju Pos 7 atau tidak. Bang Jo dan Rizky memiliki jawaban yang sama. Mereka sudah tidak kuat jika harus melanjutkan ke Pos 7. Mas bagus pun juga. Akhirnya kamipun mendirikan tenda Bang Jo karena sore ini angin bertiup cukup kencang dan suhu udara menurun drastis. Badan harus segera diistirahatkan dan mendapatkan kehangatan agar tidak bertambah parah.

Setelah tenda berdiri, bang Jo dan Rizky lalu masuk dan merebahkan badan mereka, sementara saya diminta mas bagus untuk mencari lagi di bagian atas shelter karena penglihatan mas bagus tidak terlalu bagus karena sudah gelap. Akupun segera naik memgikuti jalan setapak, kadang menerobos semak. Di atas(belakang) shelter ternyata banyak tenda para pendaki, aku amati satu persatu hingga paling atas. Namun memang tak ada satupun tenda rombongan kami. Nihil.

Akhirnya akupun turun lagi ke tenda Bang Jo. Kulihat mas bagus di luar tenda, karena tenda bang Jo memang hanya cukup untuk 3 orang jika posisi tidur teratur. Sementara di dalam tenda Bang Jo dan rizky, ditambah 4 carrier yang belum dibongkar isinya. Jelas tidak ada ruang lagi.

Aku dan mas Bagus pun kemudian menumpang  sementara di tenda pendaki Cirebon yang berbeda rombongan dengan kami untuk menghindari dinginnya angin yang masih cukup kencang bertiup. Di dalam tendanya, kami disambut dengan hangat, dengan secangkir jahe hangat yang menemani obrolan kami petang ini. Setelah cangkir kosong, kamipun merebahkan badan, sekedar mengistirahatkan tubuh barang sejenak sebelum menyusun rencana-rencana baru. Tak terasa, matakupun terpejam, tertidur sebentar sebelum suara-suara yang ku kenali memanggil-manggil.

“Bang Jo. Bang!”
Akupun bangun, ternyata yang memanggil – manggil adalah helmi, mas faizal, ian, dan agus, yang mungkin khawatir dengan kami yang terpisah jauh sebelum pos 3. Kamipun segera mengangkut kembali carrier dan barang kami menuju tempat mereka mendirikan tenda. Kata helmi sih dekat, cuma di atas sini. Dekat versi helmi ternyata cukup jauh menurut kami. Yaitu sekitar 10 menit di atas pos 5. Memang ‘cuma’  10 menit, tapi dengan kondisi badan yang baru saja agak nyaman beristirahat, cukup berat.
Kembali kaki menjejak tanah, menghadapi tanjakan-tanjakan curam. Tapi mau tidak mau, kami harus. Kamipun lega, saat melihat himpunan tenda dengan penerangan lampu dan led yang sangat terang. Paling terang jika dibandingkan tenda-tenda yang kami lihat dan lewati tadi. Terang saja, helmi membawa 2 aki motor untuk sumber tenaga lampu dan led.
Akupun langsung duduk di pinggiran, sementara bang jo, rizky, dan mas bagus langsung masuk ke salah satu tenda untuk Menghangatkan dan mengistirahatkan badan mereka. Agak lama aku duduk di luar, masih dengan carrier di punggung. Menatap dengan nanar, Seperti ada yang mengusik hati dan pikiran. Entahlah. Ada yang berbeda dari pendakian-pendakian sebelumnya.
Akupun melepaskan carrier, dan ikut nimbrung helmi dan lainnya yang mulai sibuk memasak untuk makan malam. Suasana kembali Menghangat. Bahkan udara Slamet malam itu tak begitu terasa dinginnya. Bercanda sembari menikmati teh tubruk serta cemilan untuk sedikit mengganjal perut yang lapar. Menu makan malam yang kemalaman kali ini adalah nasi yang masih sesikit krenyil-krenyil, ayam goreng, bakwan, dan sambel terasi. Mas bagus dan mbak kiki yang sudah pewe di dalam tenda masing-masing enggan keluar dan ikut makan.
Setelah makan, kamipun segera masuk ke dalam tenda untuk tidur. Karena esok subuh kami akan melanjutkan sisa perjalanan kami. Ada 4 tenda yang didirikan di Pos 5 1/2 ini. Lafuma Campo 2 punya ian diisi ian dan Agus. Naturehike P2 punya mbak Adit diisi Mbak-mbak setrong : Mbak Adit, Mbak Fifi, Mbak Kiki. Tenda Great Outdoor Java 4 punya Panthera Outdoor diisi Mas Faisal, Jefri, Moyo, dan Helmi. Dan Tenda Great Outdoor Java 4pro yang juga punya Panthera diisi Mas Bagus, Rizki, Bang Jo, yang mana mereka bertiga tidur sedikit tidak teratur, jadilah aku menggelar matrasku di teras tenda, dan segera masuk ke dalam SB. Berharap malam ini tak terlalu dingin.

* * *

Part #2 dari Sudut pandang Bang Johan bisa dibaca disini

About afvendiant

Suka bertualang di gunung dan hutan, membaca buku/novel tentang alam dan petualangan, mengeksplorasi keanekaragaman hayati di jalur pendakian/ perjalanan. Owner @mountainswalker & @meru_outdoor

Check Also

Pendakian Gunung Slamet via bambangan #2 : Memenuhi Janji

Ini adalah lanjutan catatan perjalanan dari sudut pandang Bang Johan ( IG @johanhimself ). Hanya …