Senin , Desember 9 2019
Home / Catatan Perjalanan / Dua Malam di Taman Hidup

Dua Malam di Taman Hidup

HIKE ACROSS ARGOPURO 2019 : DUA MALAM DI TAMAN HIDUP

9 Juli 2019

“Alhamdulillah.”

Itulah yang terucap saat kami sampai di plang Batas Kawasan Suaka margasatwa Dataran Tinggi Hyang. Yang menjadi tanda bahwa kami sudah sampai di area Danau Taman Hidup. Kami melewati Pagar Raksasa yang dibuat dari batang kayu utuh, sebagai pembatas agar pengendara motor tidak meringsek lebih dalam masuk ke kawasan.

Kamipun masih berjalan mengikuti jalan setapak menurun. Saup-saup terdengar obrolan pendaki lain yang sudah sampai lebih dulu di area camp Taman Hidup. Kerlap kerlip cahaya headlamp dan api unggun juga terlihat timbul tenggelam, tertutup semak-semak.

Tak lebih dari 5 menit, kamipun sampai di Area Camp taman Hidup yang sudah dipenuhi tenda pendaki yang mungkin sudah sampai di sini sore tadi. Kami hanya menyapa, dan tetap berjalan ‘keluar hutan’ menuju area terbuka .

“Selamat Datang di taman Hidup!” Begitu yang kuucapkan kepada kawan-kawanku. AKu menyalami kawan-kawanku. Sebagai ungkapan selamat, dan syukur sudah sampai di sini. Rasa haru jelas tak bisa disembunyikan beberapa kawan, terutama para perempuan. Mereka menitikkan air mata, Dan malam tak mampu menyembunyikannya dari kami. Seperti juga Taman Hidup terlihat samar-samar di bawah sinar rembulan dan pendar bintang-bintang. Langit yang cerah. Alhamdulillah.

Kami segera memilih lokasi untuk mendirikan tenda, kelebihan dan kekurangannya kami diskusikan. Dan diputuskan kami akan mendirikan tenda di tempat terbuka di Taman Hidup. Dengan segala konsekuensi yang siap kami hadapi. Semoga malam ini tak terlalu dingin.

Tenda sudah berdiri. Barang-barang kami segera kami masukkan ke tenda kami masing-masing. Aku dengan Ita di tenda NH Star River-nya Husen. Hana dan Nisa di MM halfmoon-nya Bang Jo. Dan Sisanya, Adit, Helmi, dan Rizky di BigA tambora-nya Eko Bps. Tenda pinjaman semua. 😀 Nuwun, gaes!

Setelah barang-barang dirapikan, kamipun makan malam untuk mengembalikan energy kami. Kami sudah membawa nasi bungkus dari Basecamp, jadi tinggal menyiapkan lauknya saja. Ayam goreng.

*seperti biasa, kami membeli daging ayam di pasar sebelum Basecamp, lalu direbus di basecamp, dinginkan, bungkus. Jadi di gunung tinggal goreng saja.

Selesai makan, kamipun segera masuk ke tenda masing-masing untuk mengistirahatkan badan. Karena perhalanan ini cukup melelahkan. Dari kemarin siang kami hampir tak istirahat. 12 jam di kereta Gaya baru malam Selatan (Cirebon-Surabaya), 2 jam di Kereta Probowangi (Surabaya-Probolinggo), 2 jam di mobil dari Stasiun Probolinggo ke Basecamp Bremi, dan 7 jam berjalan dari BC ke Danau taman Hidup.

Pagi Berkabut di taman Hidup ( foto oleh : @afvendiant )

10 Juli 2019

Kubuka pintu tenda, dan kabut tebal masih menguasai suasana. Akupun menutup pintu tenda dan kembali berbaring. Alhamdulillah malam ini bisa terlewati tanpa sesuatu yang berarti. Dingin, namun masih bisa tidur nyenyak tanpa terbangun sampai pagi. Mungkin karena terlalu lelah.

Jam 6 pagipun danau masih tertutup kabut. Jelas, matahari terbit tak akan kami dapatkan pagi ini. Tapi kami tak terlalu kecewa, karena kami masih punya kesempatan esok pagi. Kami memang berencana camp 2 malam di sini. Untuk mengistirahatkan badan sebelum bagian terberat dari taman Hidup ke Puncak Arca, Argopuro, atau Savana Lonceng.

Camp kami di danau taman Hidup ( foto oleh : @rosita )

Kamipun segera memasak air untuk membuat minuman hangat. Setidaknya bisa menghangatkan badan dan hati yang dingin. 😀 duduk bersama dan berbincang tentang bermacam hal. Sembari tetap foto-foto meski kabut masih menggelayut di Taman Hidup.

 Sekitar pukul tujuh lewat sepuluh, pemandangan baru mulai terbuka. Langit mulai terlihat biru, dan kabut tebal hilang, tinggal kabut tipis yang masih senang mengambang di atas permukaaan. Kami yang tak terburu-buru pun punya banyak waktu memenuhi memory Smartphone maupun kamera. Dan dermaga adalah spot paling favorit para pendaki untuk berfoto. Jadilah antri dengan pendaki lain yang juga ingin mendokumentasikan diri berdiri di dermaga yang dulunya sunyi.

Mentari semakin tinggi, satu persatu rombongan pendaki mulai meninggalkan camp Taman Hidup untuk turun ke BC Bremi, dan pulang ke kota masing-masing. Beberapa dari mereka sempat berbincang dengan kami, bertukar sticker dan id Instagram, dan berfoto bersama. Beberapa dari mereka juga sempat ditegur hana dan Adit, karena keramas dan cuci muka dengan sabun langsung di Dermaga Taman Hidup. Di tempat kami semua mengambil air untuk minum dan memasak. Entah apa yang ada di pikiran mereka.

Sekitar pukul 11, tinggallah rombongan kami yang masih ‘menghuni’ Taman Hidup. Semua rombongan sudah turun, dan belum ada lagi pendaki yang turun dari puncak. Sore biasanya.

Setelah masak dan makan siang, kamipun mengisi waktu dengan memancing ikan di dermaga. Kebetulan tidak ada penduduk lokal yang naik kesini untuk memancing, biasanya di saat weekend banyak warga sekitar yang naik hanya untuk memancing ikan di dermaga ini. Semesta sepertinya kembali baik dengan kami.

“Yeay! Dapat ikan!” begitu teriak Hana yang mendapatkan ikan pertama kali. Cukup keras hingga terdengar sampai tenda kami. Dasar Hana. Dan setelah itu helmi, Adit, Hana dan Ita juga mendapatkan ikan di pancing mereka. Total 12 ikan Tawes kecil hingga sedang kami dapatkan. Dan Setiap dapat ikan, teriakan Hana dan lainnya kembali menggema di Danau Taman Hidup yang Sunyi. Dan tak lama setelah teriakan itu, kabut turun menutup pemandangan. Memang begitu mitosnya disini, Jika ada yang berisik/ berteriak, maka akan turun kabut. Percaya atau tidak, itu terserah anda. 😀

Satu persatu pendaki datang. Mereka dari Puncak. Tampak ‘berantakan’ seperti saat kami sampai sini kemaren malam. Kami berbincang-bincang. Aku juga sedikit bertanya tentang jalur ke puncak. Setidaknya sebagai data tambahan. Aku memang pernah naik Argopuro via Bremi lintas Baderan, tapi itu sudah 5 tahun yang lalu. Tentu sedikit banyak ada perubahan. Semoga kami bertuju sanggup melewatinya sesuai harapan kami.

Sore menjelang, kembali kami berkumpul di bawah Flyheet yang tadi pagi sudah kami bentangkan agak jauh dari tenda-tenda kami sebagai dapur umum kami. Kami segera mengolah ikan hasil tangkapan kami, memasak nasi dan juga sayur untuk makan malam kami. Masing-masing dari kami ambil bagian di acara masak-masak ini. Ada yang memasak nasi, mengiris sayur dan bumbu, memasak sayur, menggoreng ikan, menggoreng tempe, dan ada yang bagian ngicip. 😀 Ada yang bilang, “Di gunung, laki-laki lebih rajin disbanding perempuan.Lali-lali yang masak, perempuan tinggal makan.” Di sini, itu semua hanya MITOS. Camkan Itu! 😀

Malam hari setelah makan, Helmi dan Adit menyalakan api unggun. Kebetulan mala mini tidak banyak angin, sehingga api cukup terkendali. Di Argopuro memang belum ada larangan untuk membuat api unggun, tapi jangan lupa ya untuk tetap mengutamakan keselamatan dan meninggalkan bekas api unggun dalam kondisi benar-benar sudah padam dan tidak ada bara yang tersisa.

Malam ini secerah malam sebelumnya, bintang-bintang bertaburan menghiasi langit Taman Hidup. Kamipun berbincang sembari menghangatkan badan di sekitar api unggun. Aku baru mulai beranjak ke tenda saat nyala api mulai mengecil. Sementara Helmi masih menunggu nasi matang, adit mulai merapikan perlengkapan, dan Hana asik rebahan melihat bintang-bintang.

Menghangatkan Badan, Mengakrabkan Persaudaraan ( foto oleh : @afvendiant )

11 Juli 2019

Aku terbangun karena dingin yang cukup menusuk. Melihat HP baru jam 4, kuputuskan untuk kembali meringkuk dalam Sleeping Bag. Tak berapa lama, aku kembali terbangun oleh Alarm. Sudah Jam 5. Aku segera bangun, membuka tenda, dan belum ada kehidupan di komplek tendaku. Mungkin karena suhu pagi ini lebih dingin, jadi sedikit malas untuk segera keluar tenda.

Segera kubangunkan Helmi dan lainnya, karena sesuai Itinerary, kami harus berangkat pagi-pagi dari sini agar tidak kemaleman saat sampai puncak. Kami segera keluar tenda, dan bersiap untuk masak sembari packing barang-barang kami yang sementara sudah tidak dipakai.

Namun rencana berangkat pagi hanya jadi wacana. Ada yang menarik perhatian kami semua. Embun Upas, atau Kristal Es yang menyelimuti rerumputan sekitar tenda, dan juga di Flysheet tenda kami. Pantas saja semalam tidur kami tidak nyenyak. Ternyata suhu malam tadi memang lebih dingin dari sebelumnya. Selain Embun Upas, pemandangan pagi ini lebih cerah dibandingkan pagi sebelumnya. Cerah Tanpa kabut. Jadilah kami berfoto-ria sampai lupa waktu. Dasar Aku.

Setelah sarapan, semua barang dikeluarkan dan dirapikan, dan tenda-tenda mulai dibongkar. Kami harus bergegas. Tak lupa kami mengisi semua botol minum, water baldder, dan jerigen yang kami bawa di dermaga. Karena kami tak akan menemukan sumber air lagi hingga puncak. Kami baru akan bertemu dengan sumber air esok saat turun di Pos rawa Embik.

Setelah selesai packing dan keperluan buang air, kami segera Foto bersama. Berdoa dan bersiap untuk pendakian yang akan lebih berat dari pendakian hari pertama. Pendakian yang lebih lama dari hari pertama. Bismillah. Semoga dikuatkan. Itulah doaku untuk diri sendiri dan kawan setimku.

Bersiap menuju Puncak ( foto oleh : Mas-mas pendaki )

Rasa haru kembali menghampiri, seperti saat sampai di sini. Ada rasa berat untuk meninggalkan Taman Hidup yang telah menjamu kami, memeluk kami, dan memanjakan kami selama disini. Rasanya masih belum puas 2malam kami di sini, tapi perjalanan masih panjang. Masih ada tempat-tempat indah lainnya yang belum kami nikmati di perjalanan ini. Semoga ada kesempatan untuk duduk di dermaga sunyimu lagi, Taman Hidup.

Hike Must Go On. Meninggalkan Taman Hidup Menuju Puncak Arca (Foto oleh @afvendiant )

About afvendiant

Suka bertualang di gunung dan hutan, membaca buku/novel tentang alam dan petualangan, mengeksplorasi keanekaragaman hayati di jalur pendakian/ perjalanan. Owner @mountainswalker & @meru_outdoor

Check Also

CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN #1

CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN SING PENTING.. SLAMET!! Itulah yel-yel yg kami teriakkan …